Jumat, 16 November 2012

Negeri di dalam diri


Cobalah kita perhatikan diri kita sendiri, bagaimana kesempurnaannya dan bagaimana pula kekurangannya. Adakah kita melihat tubuh dan badan itu seperti sebuah negeri yang bebas mengendalikan seluruh anggotanya, mengerti bagaimana kebutuhan dan kesulitan. Mengatasi segala persoalan, supaya tetap nyaman. Ada yang terus bekerja setiap saat dengan telitinya didalam tubuh dan kita tidak menyadarinya. 

Jika satu tubuh itu seperti sebuah negeri maka orang yang lain itu adalah negeri tetangga dan saling mengerti bagaimana menghargai dan bersahabat. Jika kita kembali kepada anggota tubuh kita, bagaimana anggota badan seperti tangan, kaki yang terus dapat bekerja, Belum lagi organ yang berada di dalam tubuh yang masing-masing terus bekerja secara seimbang. Keseimbangan itulah menjadikan tubuh kita sehat, dalam kualitas yang relatif. 

Setiap gerak tubuh itu merupakan suatu keputusan yang dilaksanakan. Suatu ketentuan yang secara otomatis terus bekerja. Pengambilan keputusan yang sangat banyak, antara ya dan tidak atau antara minus dan plus yang bekerja dalam secara mikro dan makro. Keputusan yang diambil oleh tubuh, untuk berjalan atau berlari, sudah pasti didukung oleh segenap organ tubuh yang memberi support. Namun terkadang ada kalanya terjadi sebuah penolakan dari dalam tubuh, sehingga suatu keputusan yang diambil itu menjadi tertunda, dan dirintangi oleh keragu-raguan.

Islam yang di-ghibah



Seperti halnya penulis pada saat ini, hanya bisa ngomong atau menulis saja begitu juga halnya kebanyakan orang-orang sekarang hanya pandai mengemukakan wacana saja, tetapi itu belum tentu dilaksanakan. Pengetahuan yang dimilikinya hanyalah sekedar untuk diketahui saja, tetapi belum diaplikasi kedalam kehidupan sehari-hari. Khususnya pengetahuan tentang agama Islam yang teramat luas penjabaran itu, sebagian besar hanya bisa tertulis didalam buku dan kitab, sementara yang diamalkan dan dijadikan sifat dan watak dirinya sendiri itu sangatlah sedikit. Al-Qur'an, Al-Hadits, beserta sekalian norma-norma etika itu seharusnya menjadi sifat diri manusia dan dapat berfungsi secara spontan, dan itulah muslim yang sebenarnya.

Manusia terlahir ke dunia ini dalam keadaan suci, dan dibesarkan oleh dunia itu pada hakikatnya dipenuhi dengan luka, maka syari'at agama-lah yang akan menyembuhkannya dan mengantarkannya kepada kehidupan yang bahagia dan abadi di hari akhirnya. Manusia yang dipenuhi luka di tubuh dan badannya, tentulah ketika diobati akan merasa sakit, maka kesabaranlah yang mengajarkannya kepada harapan kesembuhannya. Setiap waktu mengobatinya dan dilukai lagi lalu diobati lagi, senantiasalah ia bersyukur atas peningkatan kualitas Muslimnya manusia itu.

Kamis, 15 November 2012

Sebuah Negeri Diatas Angin


Di dalam Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai, terdapat sebuah hadits yang menyebutkan Rasulullah menyuruh para sahabat untuk berdakwah di suatu tempat bernama Samudra, yang akan terjadi tidak lama lagi di kemudian hari.

“…Pada zaman Nabi Muhammad Rasul Allah salla’llahu ‘alaihi wassalama tatkala lagi hajat hadhrat yang maha mulia itu, maka sabda ia pada sahabat baginda di Mekkah, demikian sabda baginda Nabi: “Bahwa sepeninggalku ada sebuah negeri di atas angin samudera namanya. Apabila ada didengar khabar negeri itu maka kami suruh engkau (menyediakan) sebuah kapal membawa perkakas dan kamu bawa orang dalam negeri (itu) masuk Islam serta mengucapkan dua kalimah syahadat. Syahdan, (lagi) akan dijadikan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam negeri itu terbanyak daripada segala Wali Allah jadi dalam negeri itu“….

Kaum sejarawan Melayu memperkirakan negeri samudra yang dimaksud adalah Kerajaan Samudra Pasai (Sumber : Nama Sumatra Telah Dikenal Sejak Zaman Rasulullah, Kedatangan Islam dan Penyebarannya di Indonesia), namun pendapat ini bukan tidak ada kelemahan, hal ini dikarenakan Kerajaan Samudra Pasai baru muncul 600 tahun setelah wafatnya Rasulullah.

Muncul dugaan negeri yang dimaksud adalah sebuah negeri maritim yang dikelilingi samudra, yang mencapai masa ke-emasan sekitar 50 tahun setelah wafatnya beliau, yang dikenal dengan nama Sriwijaya.


Sriwijaya dan Dakwah Islam

Terlepas apakah memiliki hubungan dengan keberadaan  Hadis Rasulullah maupun tidak, Nusantara (yang merupakan daerah dikelilingi Samudra), telah  dijadikan lahan  dakwah, di masa ketika Rasulullah masih hidup.

Hal ini bisa dibuktikan dengan ditemukannya nisan  Syeikh Rukunuddin di Barus (Fansur), yang diperkirakan merupakan salah seorang sahabat Rasulullah.

Dan ketika negeri maritim, (Sriwijaya) muncul, dakwah Islamiyah semakin di-intensifkan lagi. Salah satu bukti tertulis, adalah ditemukannya surat, yang berisikan korespodensi antara Raja Sriwijaya dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, pada sekitar tahun 100H (Sumber : Sriwijaya Pintu Masuk Islam ke Nusantara).



Rabu, 14 November 2012

Sepuluh Perkara Yang Mematikan Hati


Syaqiq Al-Balkhi, sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi Al-Bantani, menuturkan bahwa Ibrahim bin Adham pernah berjalan-jalan di pasar-pasar di kota Bashrah (Irak). Lalu orang-orang datang kepadanya dan berkumpul disekitarnya. Mereka bertanya kepadanya tentang firman Allah Ta’ala QS. Ghafir : 60. 

“Kami,” kata mereka, ”sejak lama berdo’a kepada Allah Ta’ala, namun Dia tidak mengabulkan do’a kami.” 

Mendengar hal itu Ibrahim bin Adham berkata, ”Wahai penduduk Bashrah, itu karena qalbu-qalbu kalian sesungguhnya telah mati karena sepuluh perkara. Jadi, bagaimana mungkin Allah mengabulkan do’a kalian?!” Kesepuluh perkara itu, kata Ibrahim bin Adham, adalah : 

1. Sesungguhnya kalian mengaku mengenal Allah Ta’ala (yakni memahami bahwa Dia Pencipta kalian dan Pemberi rezeki kepada kalian), namun kalian tidak menunaikan hak-hak-Nya (dengan senantiasa beribadah/mengabdi kepada Dia sebagaimana yang Dia perintahkan kepada kalian). 

2. Sesungguhnya kalian membaca Kitabullah, tetapi kalian tidak mengamalkan isinya. 

3. Sesungguhnya kalian mengklaim memusuhi setan, namun kalian justru berteman dengan dia (sering mengikuti berbagai ajakan / perintahnya). 

4. Sesungguhnya kalian mengklaim mencintai Baginda Rasulullah SAW, tetapi kalian meninggalkan jejak (amal)-nya dan menanggalkan sunnah-sunnah –nya tanpa berusaha mengikutinya. 

5. Sesungguhnya kalian mengklaim mencintai surga, namun kalian tidak beramal demi meraih surga itu (tidak melakukan amalan-amalan yang dapat memasukan kalian ke dalam surga tersebut). 

6. Sesungguhnya kalian mengklaim takut terhadap adzab neraka, tapi kalian justru tidak pernah berhenti melakukan banyak dosa (yang bisa menyebabkan kalian jatuh kedalam adzab neraka). 

7. Sesungguhnya kalian mengklaim (meyakini) bahwa kematian itu hak (benar-benar akan terjadi) namun kalian tidak berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian tersebut (tidak berusaha memperbanyak amal sholih untuk bekal menghadapi kematian). 

8. Sesungguhnya kalian sering sibuk mengurusi aib-aib orang lain (sering melakukan ghibah), tetapi kalian lalai memperhatikan aib-aib diri sendiri (tidak berusaha memperbaiki diri). 

9. Sesungguhnya kalian memakan rezeki Allah Ta’ala tetapi kalian tidak mau bersyukur kepada-Nya (syukur seorang hamba kepada Allah Ta’ala adalah dengan cara biasa memuji Dia dengan sering menyebut kebaikanNya, kemudian selalu berusaha tunduk dan taat kepadaNya). 

10. Sesungguhnya kalian sering menguburkan orang-orang yang meninggal di antara kalian, namun kalian tidak mengambil ibrah dan pelajaran dari kematian. Kalian tidak berusaha menyadari padahaljika kalian menyadari, kalian akan merindukan apa yang di raih oleh pelaku kebaikan dan membenci apa yang di dapat oleh pelaku keburukan. (An-Nawawi, Nasha’ih al-‘ibad, hal. 75) 

Itulah sepuluh perkara yang membuat hati seorang muslim menjadi mati sehingga doa-doanya tidak di kabulkan oleh Allah Ta’ala. 

Dari penjelasan Ibrahim bin Adham tentang sepuluh perkara yang mematikan hati di atas, tentu kita bisa memahami kebalikannya, yaitu sepuluh perkara yang bisa membuat kalbu-kalbu kita senantiasa tetap hidup. 

1. Mengenal Allah sebagai Pencipta dan Pemberi Rezeki seraya beribadah dengan selalu tunduk dan patuh pada segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangannya. 

2. Membaca, mengkaji sekaligus mengamalkan isi Al-Qur’an. 

3. Menjadikan iblis atau setan sebagai musuh dengan benar-benar tidak mengikuti berbagai ajakan dan perintahnya. 

4. Mencintai Baginda Rasulullah SAW seraya berusaha untuk selalu mengikuti jejak langkah Beliau dan jalan kehidupan beliau. 

5. Selalu merindukan surga yang dibuktikan senantiasa memperbanyak amal shalih untuk bisa masuk ke dalamnya. 

6. Senantiasa takut terhadap adzab neraka yang di buktikan dengan berusaha berhenti dari berbuat dosa dan kemaksiatan yang dapat menjerumuskan diri ke dalamnya. 

7. Meyakini bahwa kematian itu haq (pasti terjadi)sehungga selalu berusaha mempersiapkan bekal amal-amal sholih untuk menghadapi kematian tersebut. 

8. Senantiasa sibuk memperhatikan sekaligus memperbaiki aib-aib diri dan tidak sibuk memperhatikan aib-aib orang lain. 

9. Memakan rezeki Allah Ta’ala yang halal dan baik seraya mensyukurinya dengan banyak memujinya sekaligus tunduk dan patuh kepada-Nya. 

10. Berusaha mengambil banyak ‘ibrah dan pelajaran dari kematian orang-orang yang lebih dahulu meninggalkan kita. 

Wallahu a'lam bishshawaab.


Selasa, 13 November 2012

Kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat


Rasulullah Muhammad SAW bersabda: dari Abu Hurairah berkata bahwa orang-orang bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat nanti?" Beliau menjawab: "Apakah kalian dapat membantah (bahwa kalian dapat melihat) bulan pada malam purnama, bila tidak ada awan yang menghalanginya?" Mereka menjawab, "Tidak, wahai Rasulullah." Beliau bertanya lagi: "Apakah kalian dapat membantah (bahwa kalian dapat melihat) matahari, bila tidak ada awan yg menghalanginya?" Mereka menjawab, "Tidak." Beliau lantas bersabda: "Sungguh kalian akan dapat melihat-Nya seperti itu juga. Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat, lalu Allah Subhaanahu Wa Ta'ala berfirman: 'Barangsiapa menyembah seseuatu, maka ia akan ikut dengannya.' Maka di antara mereka ada yang mengikuti matahari, di antara mereka ada yg mengikuti bulan dan di antara mereka ada pula yang mengikuti thaghut-thaghut. Maka tinggallah ummat ini, yang diantaranya ada para munafiknya. Maka Allah mendatangi mereka dan lalu berfirman: 'Aku adalah Rabb kalian.' Mereka berkata, 'Inilah tempat kedudukan kami hingga datang Rabb kami. Apabila Rabb kami telah datang pasti kami mengenalnya.' Maka Allah mendatangi mereka seraya berfirman: 'Akulah Rabb kalian.' Allah kemudian memanggil mereka, lalu dibentangkanlah Ash Shirath di atas neraka Jahannam. Dan akulah orang yang pertama berhasil melewatinya di antara para Rasul bersama ummatnya. Pada hari itu tidak ada seorangpun yang dapat berbicara kecuali para Rasul, dan ucapan para Rasul adalah: 'Ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah.' Dan di dalam Jahannam ada besi yg ujungnya bengkok seperti duri Sa'dan (tumbuhan yg berduri tajam). Pernahkah kalian melihat duri Sa'dan?" Mereka menjawab: "Ya, pernah." Beliau melanjutkan: "Sungguh dia seperti duri Sa'dan, hanya saja tidak ada yang mengetahui ukuran besarnya duri tersebut kecuali Allah. Duri tersebut akan menusuk-nusuk manusia berdasarkan amal amal mereka. Di antara mereka ada yang dikoyak-koyak hingga binasa disebabkan amalnya, ada pula yg dipotong-potong kemudian selamat melewatinya. Hingga apabila Allah berkehendak memberikan rahmat-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya dari penghuni neraka, maka Allah memerintahkan Malaikat untuk mengeluarkan siapa saja yang pernah menyembah Allah. Maka para Malikat mengeluarkan mereka, yang mereka dikenal berdasarkan tanda bekas-bekas sujud (atsarus sujud). Dan Allah telah mengharamkan kepada neraka untuk memakan (membakar) atsarus sujud, lalu keluarlah mereka dari neraka. Setiap anak keturunan Adam akan dibakar oleh neraka kecuali mereka yang memiliki atsarus sujud. Maka mereka keluar dalam keadaan sudah hangus terbakar (gosong), lalu mereka disiram dgn air kehidupan kemudian jadilah mereka tumbuh seperti tumbuhnya benih di tepian aliran sungai. Setelah itu selesailah Allah memutuskan perkara di antara hamba-hambaNya. Dan yang tinggal hanyalah seorang yg berada antara surga dan neraka, dan dia adalah orang terakhir yang memasuki surga di antara penghuni neraka yang berhak memasukinya, dia sedang menghadapkan wajahnya ke neraka seraya berkata, 'Ya Rabb, palingkanlah wajahku dari neraka! Sungguh anginnya neraka telah meracuni aku dan baranya telah memanggang aku.' Lalu Allah berfirman: 'Apakah seandainya kamu diberi kesempatan kali yang lain kamu tidak akan meminta yang lain lagi? ' Orang itu menjawab: 'Tidak, demi kemuliaan-Mu, ya Allah! ' Maka Allah memberikan kepadanya janji dan ikatan perjanjian sesuai apa yang dikehendati orang tersebut. Kemudian Allah memalingkan wajah orang tersebut dari neraka. Maka ketika wajahnya dihadapkan kepada surga, dia melihat taman-taman dan keindahan surga lalu terdiam dengan tertegun sesuai apa yang Allah kehendaki. Kemudian orang itu berkata, 'Ya Rabb, dekatkan aku ke pintu surga! ' Allah Azza Wa Jalla berfirman: 'Bukankah kamu telah berjanji dan mengikat perjanjian untuk tidak meminta sesuatu setelah permintaan kamu sebelumnya?" Orang itu menjawab, 'Ya Rabb, aku tidak mau menjadi ciptaanMu yang paling celaka.' Allah kembali bertanya: 'Apakah kamu bila telah diberikan permintaanmu sekarang ini, nantinya kamu tidak akan meminta yg lain lagi?" Orang itu menjawab, 'Tidak, demi kemuliaan-Mu. Aku tidak akan meminta yang lain setelah ini.' Maka Rabbnya memberikan kepadanya janji dan ikatan sesuai apa yang dikehendati orang tersebut. Lalu orang tersebut didekatkan ke pintu surga. Maka manakala orang itu sudah sampai di pintu surga, dia melihat keindahan surga dan taman-taman yang hijau serta kegembiraan yang terdapat didalamnya, orang itu terdiam dengan tertegun sesuai apa yang Allah kehendaki. Kemudian orang itu berkata, 'Ya Rabb, masukkanlah aku ke surga! ' Allah berfirman: 'Celakalah kamu dari sikap kamu yang tidak menepati janji. Bukankah kamu telah berjanji dan mengikat perjanjian untuk tidak meminta sesuatu setelah kamu diberikan apa yang kamu pinta?" Orang itu berkata, 'Ya Rabb, janganlah Engkau menjadikan aku ciptaan-Mu yang paling celaka.' Maka Allah Azza Wa Jalla tertawa mendengarnya. Lalu Allah mengizinkan orang itu memasuki surga. Setelah itu Allah Azza Wa Jalla berfirman: 'Bayangkanlah! ' Lalu orang itu membayangkan hingga setelah selesai apa yang ia bayangkan, Allah berfirman kpdnya: 'Dari sini.' Dan demikianlah Rabbnya mengingatkan orang tersebut hingga manakala orang tersebut selesai membayangkan, Allah berfirman lagi: "Ini semua untuk kamu dan yang serupa dengannya." Abu Sa'id Al Khudri berkata kepada Abu Hurairah, "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah berfirman: 'Ini semua untukmu dan sepuluh macam yang serupa dengannya.' Abu Hurairah berkata, "Aku tidak mengingat dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kecuali sabdanya: "Ini semua untuk kamu dan yang serupa dengannya." Abu Sa'id Al Khudri berkata, "Sungguh aku mendengar Beliau menyebutkan: 'Ini semua untukmu dan sepuluh macam yang serupa dengannya'."(HR.Bukhari|Shahih|Kitab:Adzan|No:764)

Terfokus Pada Kesalahan


Sebenarnya suatu kehebatan itu ada pada kebaikan, tetapi yang paling banyak menyerap perhatian itu sering pada kesalahan walaupun kesalahan itu hanyalah sepele. Kesalahan yang tidak disengaja ataupun yang sengaja dibuat, pastilah akan mengundang emosi. Luapan emosi itu ada ketawa, marah atau sedih. Perhatian itulah yang akan ditujukan kepada hal-hal demikian, baik yang dilakukan oleh diri sendiri atau orang lain. Maka kita akan mengatakan, bahwasanya hidup ini akan hampa tanpa canda, tawa, sedih dan gembira. Mungkin kita bertanya lagi, apakah itu suatu kesalahan tetapi mengundang orang pada perhatian. Lalu apa tujuan hidup ini? Apakah ketenangan itu seperti air laut tidak bergelora, ataukah seperti angin yang tidak berhembus? Namun kenyataan yang terjadi setiap hari bahwa siang berganti malam, gelap berganti terang, matahari terus mengitari, bumi terus berputar secara berterus-terusan.

Sabtu, 10 November 2012

Saatnya Menegur Pembaca


Para pembaca Rabu Tu yang terhormat, kali ini saya selaku penulis perlu kiranya menegur pembaca sekalian dengan harapan penulis dan para pembaca sekalian akan memiliki hubungan emosional yang lebih erat. Ini sebagai rasa silaturrahmi, bahwasanya yang menulis ini bukanlah seorang penulis hebat. Penulis Rabu Tu ini adalah orang biasa yang sedang belajar. Bukankah nabi menganjurkan bagi umatnya untuk menuntut ilmu, yaitu menuntut ilmu dari ayunan hingga liang lahat. Artinya segala apa yang kita pikirkan sekarang ini, walaupun itu sudah kita pengang sebagai sesuatu yang yakin, mungkin saja nanti apa yang kita yakini itu akan goyah. Oleh sebabnya kita harus terus menimba ilmu pengetahuan dari mana saja, dari siapa saja, dan walau sampai kapanpun.

Ketika penulis menuangkan pikiran kedalam tulisan kata dan kalimat ini, terkadang juga dilanda keragu-raguan, atau ada semacam rasa takut kalau-kalau tulisan saya ini akan membawa kepada penafsiran yang salah pada orang lain. Namun demikian, pada saat ini penulis ingin mengingatkan, bahwasanya kitas masing-masing memiliki penilaian tersendiri terhadap sesuatu hal. Apabila kita melihat sesuatu, terkadang ada yang suka ataupun kita membencinya. Begitu juga ketika mendengar dan sebagainya. Semua penilaian ada pada diri kita masing-masing.

Apabila kita mempercayai sesuatu yang kita lihat, atau kita dengar, ataupun kita baca, itu semua tergantung kepada tingkat pemahaman kita. Daya nalar seseorang itu berbeda-beda, dan tergantung kepada minat dan kegemaran. Jika seseorang memiliki kegemaran tentang seni suara, tentulah dia akan memiliki perhatian yang lebih untuk seni suara. Begitu juga kepada hal-hal lain, dan itu meminta perhatiannya dan mengisi ruang hati dan pikirannya. Seseorang yang mengharapkan sebuah kepuasan didalam setiap pekerjaannya.

Singkat kata dari penulis Rabu Tu, bahwasanya semua tulisan ini silakan membaca, dan yang baik silakan diambil manfaatnya, dan yang tidak baik semoga dapat dilupakan.

Wallahu a'lamu bishshawaab.